Senin, 10 September 2007

Presiden dan Mentan Panen Bersama Padi SRI

Presiden dan Mentan Panen Bersama Padi SRI

Ditulis oleh Webmaster

Ada satu terobosan besar yang dilakukan pemerintah, pengusaha dan kalangan petani, awal pekan ini di Cianjur, Jawa Barat. Kolaborasi pemerintah yang diwakili Deptan dengan pengusaha lewat Medco Foundation serta para petani yang dibina Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS), dan Yayasan Aliksa Organic, membuahkan hasil yang menjanjikan guna meningkatkan ketahanan pangan bangsa ini. Apalagi hal itu ditandai dengan kehadiran Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat melakukan panen perdana padi pola intensifikasi atau SRI (system of rice intensification) di Desa Bobojong, Mande, Cianjur, Jawa Barat. Metode penanaman padi dengan pola intensifikasi atau SRI, kendati bukan teknologi baru, namun terbilang baru dimanfaatkan para petani Indonesia di beberapa tempat salah satunya di Cianjur, Jawa Barat ini. Dalam kesempatan panen, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengajak kalangan petani, perbankan, pengusaha, dan pemangku kepentingan di bidang pertanian untuk terlibat mengembangkan metode penanaman padi dengan pola intensifikasi ini secara luas. Pengembangan tanam padi dengan metode SRI, kata Presiden adalah contoh nyata mengoreksi gerakan revolusi hijau, yaitu upaya meningkatkan produksi padi yang bertumpu pada pupuk kimia. “Dengan SRI, peningkatan produksi padi untuk mendorong peningkatan kesejahteraan petani tercapai, masalah ketahanan pangan dapat diselesaikan, tetapi caranya tanpa merusak lingkungan,” kata Yudhoyono.

Metode SRI juga menghemat air. Hal ini penting mengingat ketersediaan air, khususnya di Pulau Jawa yang kini memprihatinkan. Mengingat pola tanam yang bersahabat dengan lingkungan, pada kesempatan itu, Presiden SBY malah mengusulkan tambahan nama environment friendly pada SRI sehingga menjadi system of environment friendly rice intensification (SEFRI). “Ini sekadar usulan saja.”

Menteri Pertanian Anton Apriyantono mengungkapkan, metode SRI tepat diterapkan di Indonesia di tengah persoalan lahan. Lahan terus menyempit akibat laju alih fungsi yang tak terkendali. “SRI merupakan contoh meningkatkan produksi beras dengan inovasi teknologi pertanian,” katanya.

Metode SRI, tambah Mentan, bisa menjadi pilihan teknologi yang menarik karena beberapa hal. Pertama, ada efisiensi penggunaan input benih dan penghematan air. Kedua, mendorong penggunaan pupuk organik. Dengan demikian, bisa menjaga bahkan merehabilitasi kesuburan tanah, selain tentu saja mengurangi ketergantungan pada pupuk anorganik.Penggunaan pupuk organik, lanjut Mentan, memberi nilai tambah tersendiri. Padi/beras organik lebih sehat, karena itu bisa dihargai lebih tinggi.

Ini dibenarkah oleh Solihin GP, sesepuh Jawa Barat yang juga Ketua Dewan Penasihat DPKLTS. Secara khusus, Solihin minta kepada Presiden agar membuat kebijakan yang menguntungkan petani organik. “Kami para petani tolong dibantu, difasilitasi untuk bias mengekspor beras ke luar negeri.”

Di Singapura, kata Solihin, beras organik dihargai sampai Rp 50.000 per kg. Solihin meminta pemerintah mencarikan pengusaha yang bisa memasarkan beras produk SR agar ada jaminan harga bagi petani.“Kami tak minta muluk-muluk. Petani hanya minta padi organik diserap dengan harga Rp 4.500 per kg. Selanjutnya terserah pedagang dan eksportir mau dijual berapa di luar negeri.”

Chairman Medco Foundation Arifin Panigoro mengungkapkan, pengembangan padi SRI merupakan peluang usaha menjanjikan. Beras organik harganya mahal dan bisa mendorong peningkatan kesejahteraan petani. Setelah berhasil melakukan uji coba penanaman SRI di lahan 7,5 hektar, Medco Foundation berniat akan memperluas lahan penanaman SRI, konsep kemitraan dengan petani dan perbankan di lahan 10.000 hektar dengan anggaran Rp 100 miliar.
Sukses Menjadi Konsultan Kesehatan Bersama Farida Ningsih Seorang Leader Melilea Konsultan Call: 021-73888872

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog